Kategori-Kategori

Monday, 26 December 2016

Edit

Ketakutan Tergelap


Mari kembali, 
bayang2mu yg sempat menyentuh lebih dulu pundakku, 
sebelum sempat malam beradu ke pangkuan rembulan.
Biarpun pd akhirnya kau batal menepuk halus bahuku, 
lantaran kau curi dengar bisik lirih batin tentang masa depanku yg goyah terempas angin.
Cukup andaikan saja, 
wangi pagi buta kala itu menyisir keningmu yg baru saja terbangun dari tegasnya wajah tanah,
untuk lalu tengadah:
memaki janji langit yg tak kau indahkan momentum terkabulnya itu hak siapa.
Seakan kau berteriak ke jendela,
Apakah swara benang gerimis yg liris-mengiris ini
sanggup menyulam senyum lagi--utk kedwa kali--
wajah ranum yg tersayat-sayat ironi?
(dan kini perlahan fajar mematut diri)
sementara aku, yg jelas2 tahu bahwa kau batal menepuk bahu,
masih tak kuasa mengaku
kalau ketakutan tergelapku
adalah rindu

Bandung, 2016

0 comments:

Post a comment