Kategori-Kategori

Saturday, 22 April 2017

Edit

Karti

Oleh: Djoko Bikoasih

Disisa malam peringatan Untukmu,
se-Hembus doa telah q sematkan disela-sela angin,
Doa dr seorang laki-laki yg tak pernah melihatmu,
Bahkan membaca karyamu saja ia tak pernah khatam.
Inilah curhatan dr seorang pemuda abad 21,
Yg ia bungkus rapi dengan manipulasi doa,

Kepada engkau yg sudah q anggap sebagai ibu,
Janganlah lelah mendoakanKu,
Bahkan saat q lupa akan hari peringatanmu,

Bandung, 21 april 2017

Sumber Gambar: http://galeri-nasional.or.id/collections/634-wanita_menanti

Monday, 26 December 2016

Edit

Ketakutan Tergelap


Mari kembali, 
bayang2mu yg sempat menyentuh lebih dulu pundakku, 
sebelum sempat malam beradu ke pangkuan rembulan.
Biarpun pd akhirnya kau batal menepuk halus bahuku, 
lantaran kau curi dengar bisik lirih batin tentang masa depanku yg goyah terempas angin.
Cukup andaikan saja, 
wangi pagi buta kala itu menyisir keningmu yg baru saja terbangun dari tegasnya wajah tanah,
untuk lalu tengadah:
memaki janji langit yg tak kau indahkan momentum terkabulnya itu hak siapa.
Seakan kau berteriak ke jendela,
Apakah swara benang gerimis yg liris-mengiris ini
sanggup menyulam senyum lagi--utk kedwa kali--
wajah ranum yg tersayat-sayat ironi?
(dan kini perlahan fajar mematut diri)
sementara aku, yg jelas2 tahu bahwa kau batal menepuk bahu,
masih tak kuasa mengaku
kalau ketakutan tergelapku
adalah rindu

Bandung, 2016

Edit

Mak'e Dewe

Oleh: Djoko Bikoasih_Camar Sengkala

sebagai anak yang merindu kekasihnya,
sudah cukup mahir ia memainkan perasaanmu
hatinya sudah berkhidmat pada cinta

terimalah anakmu yang sudah dewasa ini
bila sesekali hatimu merindukan sesal,
kutuklah batu jadi anakmu
agar kelak tak ada fana

ibu,
telinga kita sedang diperbaiki
dari ocehan alibi dan babi kota
fikiran kita sudah dipukul
oleh luka masa depan
bila saatnya nanti,
kami hanya ingin pertapaan malammu
dimana tangismu menembus langit
dan turun menghujam dada ini bersama gerimis
yang telah dimaafkan debu

ibu,
aku hanya ingin itu
hanya untuk kali ini saja

Bandung, 22 Desember 2016
#Selamat Hari Ibu

Edit

Mengusik Braga

Oleh: Madno Wanakuncoro

Kepada rembulan,
aku menawar tajam usia:
Keluyuran menanggung miris
di jalanan Braga kesenjangan sosial kian jelas bagai kue lapis
.
Dentum bass & musik di kafe artifisial pemuja setan meraung2,
di trotoar pak-buk tua berselimut sarung
.
Redup binar mataku menusuk langit
Adakah yg lebih sengit,
selain perpaduan dua fenomena berbeda
terjalin tanpa ada sekat jurang yg memisah?



temaram_Braga, 2016

Sumber Gambar: https://7bd86aba206a59981820-a1471e32c826f82a376e3a3b16604284.ssl.cf6.rackcdn.com/2015/08/jalanbraga1.jpg

Wednesday, 16 November 2016

Edit

Sore untuk Kakek

Oleh: Djoko Bikoasih

Sudah rela kakek memeluk tubuhnya sendiri
Diam menghayati
Membayangkan cucu-cucunya yang dinasehatinya kemarin
Matanya terus berkeliling mengitari suatu tempat

Tak peduli tua,
Ia bisa melihat tanpa kabur
Dimana nenek yang duduk menangis,
Anaknya yang memegang sapu tangan,
Sarungnya yang dihamparkan menantunya,
Bahkan ia bisa melihat dirinya sendiri
Seutuhnya dari berbagai sisi
Lalu,
ia senyum sendiri

Betapa keriput wajahnya
Begitu fikirnya
Dadanya tenang tak ada beban
Gerak tubuhnya yang tak terlihat itu,
Segera ingin ia sentuh dengan jemari
Sekali lagi, 
sentuhannya meleset
Dicobanya berkali-kali
Sampai tanah liat menggelapkan pandangannya.

Ia harap cucu yang dirinduinya
akan mengirimkan cahaya
Sebab ia tak lagi bisa menemukan kacamata kesayangannya.




Kamar Hasyim Asy’ari, 15 Oktober 2016




Thursday, 29 September 2016

Edit

Na'am Wa Laa

Oleh: Abay Na Sapa...

~ I ~

Laa,,,
Kenapa tidak? kau mencintaiku.
mata nyalangmu mengatakannya padaku
mencairkan darah yang membeku
menggoda hasrat yang menggebu
Mari kita tentukan diranjang manakah kita kan beradu
Na'am,,,
Ya, aku mencintaimu. Tapi
ingin ku sandang gelar suci
meski dunia penuh dengki
Sekali lagi,
Ya, aku mencintaimu. Tapi
tidak akan ku serahkan diri
pun tak akan ku pilih mati
sebab, ini hidup cintaku!
bukan sekedar udara yang dihirup.


~ II ~

Laa,
kenapa tidak? terimalah!
kuotanya lebih dari cukup mengakses Google
membuka Facebook, Twitter, apalagi
WhatsApp dan Instagram
Dengan ini kau bisa berselancar sepuasnya 
Terimalah, apalagi yang kau ragukan?
Hidup membutuhkan kenikmatan yang lebih
dari sekedar asap rokok dan pahitnya kopi.

Na'am,,,
Ya, hidup selalu meminta lebih
bahkan puisi tertimbun sepi. Tapi,
Mataku buta,
kupingku tuli,
tanganku tanggal,
kakiku buntung,
otak dan hatiku memberhalakan puisi-puisi.
Bagiku, hidup dengan kepul aroma kopi 
dan gurihnya asap rokok lebih nikmat dari
Miyabi di bibir ranjang aki-aki


~ III ~

Laa,,,
kenapa tidak? naiklah!
pelananya dibuat khusus oleh Amerika
Kudanya impor dari Australia
Apalagi yang kau ragukan?
kau lihat pedang dileher kuda itu?
Bawalah serta!
kau akan menjadi ksatria paling tangguh
seantero jagat.

Na'am,,,
ya, kudanya begitu gagah, pongah. Tapi,
aku tak mahir mengayunkan pedang
bagaimana jika aku menebas
leher bangsaku sendiri?
Lalu, kemudian ku persembahkan
pada pembuat pelana.
Aku telah merdeka!
Negriku pun sudah merdeka!

Bandung, 21 September 2016
Al-Wafa


Sumber Gambar: www.ketikketik.com

Friday, 23 September 2016

Edit

Nada Ku

Oleh: Syep

indahnya ku dendangkan lagu itu
dengan nada da irama yang merdu
jiwa bergetar syahdu 
memuji makhluk yang dicintai selalu

nadaku menjadi pujian baginya
yang Tuhan pun meridhai pujian itu
tak lelah aku terus ucap
menyanikan lagu yang disebut shalawat

tentang lagu itu
yang selalu mendebarkan hatiku
mengingat ketika kita bernyanyi bersama
dalam tempo yang lama

lagu itu diiringi music rebana
alat musik tradisional arab sana
yang diserap oleh budaya indonesia
dan menjadi warisan para walisongo

semoga Allah selalu memberkati
Amin... 


Jawa Barat, 15 Desember 2015